Frozen Shoulder Adalah – Bahu adalah salah satu bagian tubuh yang sangat aktif digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita mengandalkannya saat menyisir rambut, mengangkat barang, bahkan saat berpakaian. Tapi bagaimana jika tiba-tiba bahu terasa kaku, nyeri, dan sulit digerakkan? Kondisi ini dikenal sebagai frozen shoulder, dan meskipun sering diabaikan pada awalnya, penyakit ini dapat mengganggu aktivitas secara signifikan jika tidak ditangani dengan tepat.
Frozen shoulder bukan sekadar pegal atau otot tertarik biasa. Ini adalah kondisi medis yang melibatkan sendi bahu dan jaringan sekitarnya yang mengeras serta menebal, menyebabkan rasa sakit dan keterbatasan pergerakan. Penyakit ini berkembang perlahan dan bisa berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, memengaruhi kualitas hidup penderitanya.
Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari lebih dalam tentang apa itu frozen shoulder, gejala-gejala yang biasa muncul, penyebab serta faktor risikonya, dan bagaimana cara penanganan yang tepat agar bahu bisa kembali bergerak dengan normal.
Apa Itu Gangguan Frozen Shoulder?
Frozen shoulder, atau dalam istilah medis disebut adhesive capsulitis, adalah kondisi yang ditandai dengan nyeri dan kekakuan pada sendi bahu sehingga menyebabkan keterbatasan pergerakan secara progresif. Istilah “frozen” mengacu pada keadaan bahu yang terasa seperti membeku karena tidak dapat digerakkan secara normal.
Sendi bahu dikelilingi oleh jaringan kapsul yang melindungi dan membantu pergerakannya. Pada frozen shoulder, kapsul ini mengalami peradangan, menebal, dan menempel satu sama lain akibat terbentuknya jaringan parut (adhesi). Akibatnya, ruang gerak sendi menyempit dan pasien mengalami rasa nyeri yang disertai dengan terbatasnya mobilitas. Kondisi ini berkembang secara bertahap dan umumnya melalui tiga fase, yaitu sebagai berikut.
- Fase pembekuan (freezing stage): Bahu mulai terasa nyeri dan rentang geraknya menurun. Nyeri terasa semakin intens, terutama saat malam hari. Fase ini bisa berlangsung 6 minggu hingga 9 bulan.
- Fase beku (frozen stage): Nyeri berangsur mereda, tetapi kekakuan makin parah. Aktivitas sehari-hari seperti mengangkat tangan menjadi sangat sulit. Fase ini bisa berlangsung 4–12 bulan.
- Fase pemulihan (thawing stage): Gerakan bahu perlahan membaik dan kembali ke fungsi normal. Proses pemulihan bisa berlangsung 6 bulan hingga 2 tahun.
Meskipun tidak mengancam nyawa, frozen shoulder bisa sangat mengganggu kenyamanan hidup dan produktivitas bagi orang yang mengandalkan gerakan tubuh secara aktif seperti atlet, pekerja lapangan, atau ibu rumah tangga.
Gejala Frozen Shoulder yang Sering Muncul
Gejala utama dari frozen shoulder adalah nyeri tumpul di bahu, disertai penurunan signifikan dalam rentang gerak. Rasa sakit biasanya menetap dan terasa lebih parah saat malam hari, terutama jika posisi tidur menekan sisi bahu yang terdampak.
Seiring waktu, nyeri bisa berkurang, tetapi digantikan dengan kekakuan ekstrem, di mana pasien tidak bisa mengangkat tangan ke atas kepala, meraih benda di rak tinggi, atau bahkan menyisir rambut sendiri. Aktivitas sederhana seperti mengenakan pakaian, mengancingkan baju, atau mengangkat tas pun menjadi sulit dilakukan.
Gejala frozen shoulder biasanya berkembang perlahan, dimulai dari rasa tidak nyaman hingga benar-benar terbatas dalam pergerakan. Banyak pasien yang awalnya mengira hanya mengalami keseleo atau otot pegal, dan menunda pemeriksaan hingga gejala menjadi lebih berat.
Ciri khas dari frozen shoulder adalah keterbatasan gerak yang bukan hanya karena nyeri, tapi juga karena sendi secara struktural memang tidak bisa digerakkan lebih jauh, bahkan dengan bantuan orang lain (passive range of motion terbatas).
Jika dibiarkan, kondisi ini tidak hanya mengganggu fungsi bahu, tetapi juga bisa memicu kompensasi gerak pada bagian tubuh lain seperti leher, punggung, atau lengan, yang kemudian menimbulkan keluhan tambahan.
Penyebab dan Faktor Risiko Frozen Shoulder
Penyebab pasti frozen shoulder masih belum sepenuhnya dipahami, namun kondisi ini umumnya berkaitan dengan kurangnya pergerakan atau mobilisasi sendi bahu dalam waktu yang lama. Situasi ini bisa terjadi akibat cedera, operasi, atau kondisi medis yang menyebabkan seseorang tidak banyak menggunakan bahunya.
Salah satu faktor risiko utama adalah trauma fisik atau bedah pada bahu seperti patah tulang, operasi rotator cuff, atau dislokasi. Setelah prosedur tersebut, jika pasien tidak melakukan latihan rehabilitasi secara aktif, jaringan di sekitar sendi bisa menegang dan menebal sehingga memicu perlengketan atau adhesi. Selain faktor tersebut, frozen shoulder juga dikaitkan dengan kondisi medis tertentu seperti berikut ini.
- Diabetes mellitus: Individu dengan diabetes memiliki risiko lebih tinggi terkena frozen shoulder, meskipun penyebab hubungannya belum sepenuhnya jelas. Kemungkinan ini berkaitan dengan perubahan metabolisme yang memengaruhi jaringan ikat.
- Gangguan tiroid: Baik hipotiroid maupun hipertiroid dapat berperan dalam perkembangan sendi kaku.
- Penyakit Parkinson, stroke, atau gangguan neurologis lainnya: Pasien dengan keterbatasan gerak jangka panjang akibat penyakit neurologis lebih rentan mengalami frozen shoulder.
- Usia dan jenis kelamin: Frozen shoulder lebih sering terjadi pada orang usia 40–60 serta lebih umum dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki.
Cara Mengatasi Frozen Shoulder
Penanganan frozen shoulder umumnya bertujuan untuk mengurangi nyeri dan memulihkan gerakan bahu secara bertahap. Pengobatan bisa berbeda-beda tergantung tahap perkembangan penyakit dan tingkat keparahan gejala yang dialami.
-
Pemakaian Obat Medis
Pada tahap awal (fase pembekuan), pengobatan berfokus pada meredakan nyeri. Dokter mungkin akan meresepkan obat antiinflamasi non-steroid (OAINS) seperti ibuprofen atau naproxen untuk mengurangi peradangan. Jika nyeri sangat parah, suntikan kortikosteroid langsung ke sendi bahu bisa menjadi salah satu pilihan untuk membantu meredakan nyeri dan memperbaiki mobilitas.
-
Pergi ke Layanan Fisioterapi
Fisioterapi menjadi komponen penting dalam penanganan frozen shoulder, terutama pada fase beku dan pemulihan. Terapi ini mencakup latihan peregangan dan penguatan otot secara bertahap untuk membuka kembali ruang gerak sendi. Latihan harus dilakukan secara rutin dan di bawah pengawasan fisioterapis profesional agar tidak menimbulkan cedera baru.
-
Prosedur Lanjutan
Pada kasus yang tidak merespons terapi konservatif setelah 6 bulan hingga 1 tahun, dokter mungkin menyarankan prosedur lanjutan seperti berikut ini.
- Manipulasi bahu di bawah anestesi: Bahu digerakkan secara paksa saat pasien berada dalam bius total untuk memecah jaringan parut.
- Arthroscopic capsular release: Prosedur bedah minimal invasif untuk memotong dan mengangkat jaringan kapsul yang menebal agar ruang sendi bisa terbuka kembali.
Selain itu, menjaga pola hidup aktif, menjaga kadar gula darah bagi pasien diabetes, serta melatih sendi bahu secara rutin sangat dianjurkan, khususnya setelah cedera atau operasi.
Itulah beberapa informasi terkait gangguan frozen shoulder yang perlu diketahui. Manfaatkan fitur Beli Obat dari VIVA Apotek untuk mendapatkan obat yang Anda butuhkan. Ingat untuk selalu jaga kesehatanmu, ya!
Referensi:
- Cleveland Clinic (2024). Frozen Shoulder (Adhesive Capsulitis). https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/frozen-shoulder-adhesive-capsulitis.
- Penn Medicine (n.d). Frozen shoulder. https://www.pennmedicine.org/conditions/frozen-shoulder.
- Mayo Clinic (2022). Frozen shoulder. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/frozen-shoulder/symptoms-causes/syc-20372684.
- NHS (2024). Frozen shoulder. https://www.nhs.uk/conditions/frozen-shoulder.