Apa Bedanya Maag dan Asam Lambung – Banyak orang sering menyebut rasa nyeri di perut bagian atas sebagai “maag,” sementara sebagian lainnya langsung menebak bahwa itu adalah “asam lambung naik.” Padahal, kedua kondisi ini tidak selalu sama.
Keduanya memang berkaitan dengan fungsi lambung, tetapi mekanisme, gejala, dan cara penanganannya cukup berbeda. Perbedaan inilah yang sering diabaikan sehingga banyak orang salah memilih obat atau tindakan pertama ketika rasa tidak nyaman mulai muncul.
Di sisi lain, gejala maag dan asam lambung memang bisa saling tumpang tindih. Mulai dari rasa perih, sensasi terbakar di dada, mual, hingga kembung, semuanya dapat muncul pada kedua kondisi tersebut. Situasi ini kerap membuat banyak orang bingung membedakan mana yang terjadi pada dirinya.
Akibatnya, tidak sedikit yang menggunakan obat secara sembarangan tanpa mengetahui penyebab pastinya. Jika dibiarkan, gejala dapat memburuk dan berisiko mengganggu aktivitas harian.
Apa Bedanya Maag dan Asam Lambung?
Untuk memahami gangguan yang dialami dengan tepat, Anda perlu mengetahui definisi dari kedua gangguan tersebut, termasuk gejala serta potensi risiko yang perlu diwaspadai. Berikut adalah penjelasan selengkapnya.
Pengertian Maag dan Asam Lambung
Maag sebenarnya bukan nama penyakit, melainkan istilah populer untuk menggambarkan berbagai keluhan akibat gangguan pada lambung. Secara medis, maag merujuk pada gejala dari kondisi tertentu seperti gastritis, dispepsia, atau luka pada lambung.
Dengan kata lain, maag adalah kumpulan keluhan yang terjadi ketika lapisan lambung mengalami iritasi atau peradangan. Kondisi ini dapat dipicu oleh pola makan tidak teratur, stres, konsumsi obat tertentu, atau infeksi bakteri H. pylori.
Sementara itu, istilah “asam lambung” sering merujuk pada GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), yaitu kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan akibat melemahnya katup antara lambung dan esofagus.
Pada GERD, masalah utamanya bukan pada iritasi lambung, tetapi pada saluran yang seharusnya menahan asam agar tidak naik. Karena kenaikan asam lambung ini bersifat mengiritasi, sensasi terbakar atau nyeri tajam di dada bisa muncul.
Singkat kata, maag dan asam lambung berbeda dari sisi sumber gangguannya. Maag berfokus pada masalah di lambung itu sendiri, sedangkan GERD atau asam lambung naik terpusat pada masalah katup saluran pencernaan bagian atas.
Perbedaan dari Gejala yang Muncul
Gejala maag biasanya terpusat di daerah perut bagian atas. Penderitanya sering merasakan perih, mual, cepat kenyang, kembung, atau rasa tidak nyaman setelah makan. Keluhan juga bisa dipicu oleh makanan pedas, kopi, atau konsumsi obat tertentu.
Gejala maag umumnya muncul karena adanya peradangan atau gangguan fungsi pada lambung sehingga produksi asam menjadi tidak terkontrol. Sebaliknya, gejala GERD atau asam lambung naik lebih sering terasa di area dada dan kerongkongan, di mana sensasi panas seperti terbakar (heartburn) adalah tanda GERD yang paling umum.
Beberapa orang juga mengalami rasa pahit di mulut, sulit menelan, bahkan suara serak karena asam lambung mengiritasi saluran napas. Keluhan umumnya memburuk ketika penderita langsung berbaring setelah makan atau mengenakan pakaian yang terlalu ketat di sekitar perut.
Perbedaan dari Risiko dan Komplikasi
Jika maag dibiarkan, risiko komplikasi yang muncul antara lain luka pada lambung, pendarahan, atau infeksi akibat bakteri H. pylori. Kondisi lambung yang terus mengalami iritasi bisa membuat penderitanya lebih sering kambuh. Maag kronis juga membuat tubuh sulit menyerap nutrisi tertentu seperti vitamin B12 atau zat besi.
Sementara itu, GERD memiliki risiko komplikasi yang berbeda. Naiknya asam lambung ke kerongkongan secara terus-menerus dapat menimbulkan peradangan yang disebut esofagitis.
Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat memicu perubahan sel yang disebut Barrett’s esophagus, di mana risiko kanker esofagus pun akan meningkat. Oleh karena itu, penderita GERD perlu waspada dan melakukan penanganan yang tepat sejak awal.
Cara Mengatasi Maag yang Efektif
Dari segi jumlah kasus, maag diketahui lebih sering terjadi pada orang-orang dibandingkan GERD. Karena alasan tersebut, ada beberapa cara mengatasi maag yang perlu diketahui agar Anda bisa melakukan penanganan yang tepat jika suatu saat terkena gangguan ini.
1. Menjaga Pola Makan Teratur
Cara paling dasar dan penting untuk mengatasi maag adalah mengatur pola makan. Ini disebabkan karena produksi asam bisa meningkat tanpa kontrol ketika pola makan berantakan.
Untuk itu, usahakan makan di jam yang konsisten setiap hari agar lambung tidak bekerja berlebihan atau kosong terlalu lama. Konsumsi makanan dalam porsi kecil tetapi lebih sering juga membantu meringankan beban kerja lambung.
Jenis makanan juga perlu diperhatikan. Pilih makanan yang mudah dicerna seperti nasi, roti tawar, sup, atau pisang. Kurangi makanan pedas, gorengan, kopi, soda, dan makanan tinggi lemak karena dapat memicu iritasi. Perubahan sederhana seperti makan secara perlahan dan tidak makan terlalu malam juga dapat membantu meredakan gejala maag.
2. Menghindari Pemicu Iritasi Lambung
Banyak orang tidak menyadari bahwa kebiasaan sehari-hari dapat memicu maag tanpa disadari. Contohnya yaitu sering mengonsumsi kopi atau teh dalam jumlah besar. Kafein dapat merangsang produksi asam lambung dan memperburuk peradangan. Ini berlaku juga untuk minuman bersoda dan alkohol yang dapat mengiritasi lapisan lambung secara langsung.
Penggunaan obat tertentu seperti obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) juga dapat memicu maag, terutama jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Sangat disarankan untuk konsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat pereda nyeri secara rutin, termasuk jika Anda memiliki riwayat maag atau masalah pencernaan lainnya.
Selain makanan dan obat, stres juga dapat memperburuk kondisi maag. Saat mengalami stres, produksi asam lambung bisa meningkat, di mana otot lambung menjadi lebih tegang sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman. Mengelola stres dengan teknik relaksasi, olahraga ringan, atau tidur yang cukup dapat membantu mencegah kekambuhan maag.
3. Mengonsumsi Obat Pereda Maag yang Tepat
Jika gejala maag sudah mengganggu aktivitas, obat bisa menjadi solusi cepat untuk meredakan keluhan. Obat antasida dapat membantu menetralkan asam lambung secara langsung dan memberikan efek lega beberapa saat setelah mengonsumsi obat.
Salah satu obat yang banyak dikonsumsi untuk meredakan maag yaitu Polysilane Suspensi. Konsumsinya 1–2 jam setelah makan dan menjelang tidur dapat mengatasi gastritis, kenaikan asam lambung, nyeri lambung, dan gejala terkait lainnya.
Jika iritasi disebabkan oleh infeksi H. pylori, artinya Anda memerlukan terapi antibiotik khusus. Sementara itu, pada maag akibat penggunaan obat tertentu, dokter mungkin menyarankan obat pelindung lambung untuk mencegah iritasi lebih lanjut.
Sebelum menggunakan obat dalam jangka panjang, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis untuk memastikan dosis dan jenis obat sesuai kondisi Anda. Penggunaan obat yang tidak tepat justru dapat memperburuk kondisi atau menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.
Itulah beberapa informasi terkait perbedaan maag dan asam lambung yang perlu diketahui. Manfaatkan fitur Beli Obat dari VIVA Apotek untuk mendapatkan obat yang Anda butuhkan. Ingat untuk selalu jaga kesehatanmu, ya!
Referensi:
- Curasia (n.d). Gastric Pain vs. Heartburn: Differentiating Between Acid Reflux and Gastritis Symptoms. https://www.curasia.com/gastric-pain-vs-heartburn-differentiating-between-acid-reflux-and-gastritis-symptoms.
- Flore (2025). Is There a Difference Between Gastritis & GERD?. https://flore.com/blogs/learn/gastritis-versus-gerd?srsltid=AfmBOopiMaPOaQQ2zDNj8YJM52pjKRnkvDbZS0ac0ANv6751J4GuZit.
- German Medical Center (n.d). GERD vs. Gastritis: How to Know What’s Causing Your Stomach Issues. https://gmcdhcc.com/blogs/gerd-vs-gastritis-how-to-know-whats-causing-your-stomach-issues.
- Medical News Today (2023). What to know about gastritis vs. GERD. https://www.medicalnewstoday.com/articles/gastritis-vs-gerd.

