Skip links

Lorazepam

Lorazepam

Lorazepam adalah obat dengan kandungan Benzodiazepin untuk mengurangi gejala gangguan kecemasan, insomnia terkait kecemasan, dan sebagai obat bius.

Merek Dagang Lorazepam

Merek dagang Lorazepam antara lain: Ativan, Loxipaz, Merlopam, dan Renaquil.

Apa Itu Lorazepam

Apa itu Lorazepam?

  • Golongan: Obat keras (perlu resep dokter)
  • Kategori: Ansiolitik/Hipnotik&sedatif
  • Manfaat: Obat untuk mengurangi gejala gangguan kecemasan, insomnia terkait kecemasan, dan sebagai obat bius.
  • Digunakan oleh: Dewasa dan anak-anak
    • Ibu Hamil: Lorazepam termasuk kategori obat D untuk keamanan kehamilan. Artinya, ada studi yang menunjukkan bahwa obat bisa berisiko pada janin manusia. Penggunaannya diperbolehkan jika manfaat yang didapat lebih besar daripada resikonya, terutama jika mengancam nyawa. Konsultasikan ke dokter sebelum menggunakan obat.
    • Ibu Menyusui: Lorazepam dapat terserap ke dalam ASI dalam jumlah kecil. Risiko pada bayi mungkin minimal, tetapi tetap disarankan untuk menggunakan obat hanya jika benar-benar diperlukan dan tidak ada alternatif yang lebih aman. Konsultasikan dengan dokter untuk mempertimbangkan risiko dan manfaat penggunaan obat ini.
    • Anak-anak: Obat tidak diperuntukkan untuk anak usia 5 tahun ke atas dan di bawah pengawasan dokter
  • Bentuk obat:  Tablet, injeksi

Peringatan Sebelum Menggunakan Lorazepam

Sebelum menggunakan Lorazepam, perhatikan beberapa hal berikut ini:

  • Beri tahu dokter dan apoteker jika Anda alergi terhadap Betahistine, obat lain, atau bahan apa pun dalam produk. Tanyakan kepada apoteker atau periksa label pada kemasan untuk mengetahui daftar bahan.
  • Informasikan ke dokter tentang obat resep dan nonresep, vitamin, suplemen gizi, atau produk herbal apa yang sedang atau akan Anda konsumsi. Dokter mungkin perlu mengubah dosis obat Anda atau memantau Anda dengan saksama untuk mengetahui efek sampingnya.
  • Beri tahu dokter jika Anda hamil, berencana untuk hamil, atau sedang menyusui. 
  • Informasikan ke dokter jika Anda memiliki riwayat PPOK, kecanduan alkohol atau penyalahgunaan obat-obatan, dan penyakit ginjal
  • Pastikan berkonsultasi dengan dokter atau apoteker sebelum memberikan Lorazepam  untuk anak-anak, orang tua, atau orang yang lemah (fisik atau mental). Anak-anak, orang tua, dan orang yang lemah mungkin lebih sensitif terhadap efek samping.

Dosis dan Aturan Pakai Lorazepam

Dosis umum Lorazepam berdasarkan bentuk obat, tujuan penggunaan, atau usia pasien adalah sebagai berikut:

Lorazepam tablet 

  • Tujuan: Meredakan gejala gangguan kecemasan
    • Dewasa:  1–4 mg per hari dibagi menjadi beberapa dosis, dikonsumsi selama 2–4 minggu.
  • Tujuan: Insomnia terkait gangguan kecemasan
    • Dewasa: 1–2 mg 1 kali sehari, dikonsumsi menjelang tidur.
  • Tujuan: Obat bius sebelum tindakan operasi
    • Dewasa: 2–3 mg diberikan pada malam sebelum operasi, dilanjutkan dengan 2–4 mg yang diberikan 1–2 jam sebelum operasi.
    • Anak usia 5–13 tahun: 0,5–2,5 mg/kgBB, diberikan 1 jam sebelum operasi.
    • Lansia: 0,5–2 mg, sesuai kondisi pasien.

Lorazepam injeksi

  • Tujuan: Obat bius sebelum tindakan operasi
    • Dewasa: Dosis: 0,05 mg/kg berat badan. Dosis maksimum: 4 mg. Diberikan sekitar 2–3 jam sebelum tindakan operasi.

Durasi penggunaan obat dapat disesuaikan dengan arahan dokter maupun apoteker. 

Manfaat Lorazepam

Lorazepam adalah obat yang digunakan untuk meredakan kecemasan. Obat ini juga diresepkan dokter untuk mengatasi insomnia yang disebabkan oleh kecemasan atau stres situasional. 

Lorazepam termasuk dalam golongan obat yang disebut benzodiazepin. Cara kerja Lorazepam, yakni memperlambat aktivitas di otak untuk memungkinkan relaksasi.

Efeknya tersebut membuat Lorazepam juga digunakan sebagai obat penenang dalam pembedahan.

Cara Menggunakan Lorazepam dengan Benar

Agar manfaatnya optimal, ikuti cara penggunaan Lorazepam yang benar seperti berikut.

  • Ikuti petunjuk penggunaan obat yang tertera pada kemasan obat atau sesuai dengan arahan dokter/apoteker.
  • Minum obat sesuai dengan dosis yang sudah ditentukan. Jangan mengurangi atau menambahkan dosis.
  • Obat ini dapat diminum sebelum atau setelah makan. Bila Anda memiliki kondisi pencernaan yang sensitif, baiknya obat diminum setelah makan untuk menghindari gangguan pencernaan.
  • Minum obat di waktu yang sama setiap harinya agar tidak melewatkan dosis. 
  • Minumlah dosis yang terlewat segera setelah Anda mengingatnya. Jika sudah mendekati waktu dosis berikutnya, lewati dosis yang terlewat dan kembali ke jadwal dosis normal. Jangan menggandakan dosis obat.
  • Obat diminum dalam kondisi utuh. Jangan menghancurkan, membelah, atau mengunyah obat. Minum segelas air setelah obat dikonsumsi.
  • Simpan obat di tempat yang kering dan sejuk. Jauhkan dari jangkauan anak atau hewan peliharaan dan paparan sinar matahari langsung. 
  • Selama penggunaan obat, hindari alkohol karena dapat menimbulkan efek samping parah.
  • Selama menggunakan obat, rutin menjalani tes fungsi hati dan tes darah.
  • Terapkan kebiasaan tidur yang baik untuk mengurangi ketergantungan pada obat tidur, misalnya tidur di waktu yang sama setiap harinya dan mencoba meditasi, menghindari kafein dan alkohol, serta tidak tidur di siang hari.
  • Obat dapat menyebabkan kantuk sehingga hindari mengemudikan kendaraan, mengoperasikan mesin, atau melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
  • Untuk sediaan injeksi, pemberian obat hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis profesional.

Interaksi Lorazepam dengan Obat Lain

Lorazepam dapat berinteraksi dengan obat lain. Interaksi obat dapat menimbulkan penurunan efektivitas obat atau menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. 

Berikut daftar obat yang dapat berinteraksi dengan Lorazepam.

  • Obat untuk asam urat,misalnya  Probenesid
  • Obat untuk infeksi HIV, seperti Zidovudine
  • Antibiotik, misalnya Eritromisin
  • Obat asma, seperti Aminofilin, Teofilin
  • Obat maag, seperti Simetidin, Omeprazole
  • Obat penghilang rasa sakit yang kuat, misalnya Metadon, Oksikodon
  • Obat flu atau alergi
  • Obat untuk tekanan darah tinggi, misalnya Amlodipine, Enalapril, Losartan
  • Obat untuk mengobati TBC, misalnya Isoniazid, Rifampisin
  • Obat untuk epilepsi (kejang), contohnya Fenobarbital, Asam valproat
  • Obat untuk mengobati infeksi jamur, misalnya Ketoconazole, Itraconazole
  • Obat untuk gangguan suasana hati, misalnya Clozapine

Daftar obat di atas mungkin tidak menjelaskan semua kemungkinan interaksi. Oleh sebab itu, beri tahu dokter mengenai obat-obatan lain yang sedang Anda gunakan sebelum menggunakan Lorazepam.

Efek Samping dan Bahaya Lorazepam

Lorazepam umumnya aman digunakan. Akan tetapi, kemungkinan efek samping dapat terjadi pada beberapa orang. Berikut efek samping yang dapat terjadi setelah penggunaan Lorazepam.

  • Mengantuk
  • Pusing
  • Kelelahan
  • Diare
  • Mual
  • Perubahan nafsu makan
  • Gelisah atau merasa sangat bersemangat
  • Sembelit
  • Penglihatan kabur
  • Penurunan libido

Beberapa gejala di atas mungkin dapat membaik seiring waktu. Akan tetapi, ada pula yang bertambah parah atau tidak kunjung membaik. Jika mengalami hal tersebut, segera periksa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. 

 

Ada pula efek samping berbahaya yang perlu ditangani dokter segera, misalnya:

  • Reaksi paradoks seperti gelisah, agitasi, mudah tersinggung, agresivitas, kemarahan, mimpi buruk, delusi
  • Gejala putus zat, seperti insomnia berulang, kecemasan, panik, jantung berdebar, berkeringat, paranoia, kejang, delirium.
  • Sering sakit tenggorokan, sariawan, demam, menggigil atau berkeringat, pendarahan atau memar yang tidak biasa.

 

Anda bisa saja mengalami reaksi alergi atau efek samping serius sehingga perlu menghentikan pengobatan dan meminta pertolongan medis segera. Berikut beberapa tanda yang harus diwaspadai:

  • Ruam dan gatal 
  • Kesulitan bernapas atau menelan
  • Kulit kemerahan, nyeri ketika ditekan, terjadi pembengkakan, dan hangat ketika disentuh

 

Manfaatkan fitur Beli Obat dari Viva Apotek untuk mendapatkan obat yang Anda butuhkan. Ingat untuk selalu jaga kesehatanmu, ya!

 

Ditinjau oleh: dr. Agustina Mahardini

 

Referensi:

Leave a comment

Explore
Drag