Skip links

Rabies

Rabies

Rabies

Rabies – Rabies adalah penyakit infeksi virus yang menyerang sistem saraf pusat dan hampir selalu berakibat fatal jika gejalanya sudah muncul. Penyakit ini ditularkan melalui air liur hewan yang terinfeksi, biasanya melalui gigitan atau cakaran. Rabies masih menjadi masalah kesehatan di banyak negara, terutama di wilayah dengan populasi anjing yang belum mendapatkan vaksinasi secara menyeluruh.

Meskipun terdengar menakutkan, rabies sebenarnya dapat dicegah jika seseorang segera mendapatkan pertolongan medis setelah terpapar virus. Oleh karena itu, penting untuk memahami gejala, cara penularan, pengobatan, dan langkah pencegahannya. Simak penjelasannya berikut ini.

Apa Itu Rabies?

Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh virus rabies. Virus ini menyerang sistem saraf pusat, termasuk otak dan sumsum tulang belakang. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus biasanya bergerak melalui saraf menuju otak, di mana infeksi kemudian menyebabkan peradangan serius.

Rabies dapat menyerang semua mamalia, termasuk anjing, kucing, kelelawar, rakun, rubah, dan hewan liar lainnya. Pada manusia, sebagian besar kasus rabies terjadi akibat gigitan anjing yang terinfeksi.

Salah satu alasan rabies sangat berbahaya adalah karena gejalanya sering kali baru muncul beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah terinfeksi virus. Ketika gejala klinis sudah berkembang, peluang untuk sembuh sangat kecil.

Gejala Rabies

Gejala rabies biasanya tidak muncul segera setelah seseorang digigit hewan yang terinfeksi. Masa inkubasi umumnya adalah antara 2-3 bulan, namun dapat bervariasi tergantung pada lokasi masuknya virus dan jumlah virus yang masuk ke tubuh.

Pada tahap awal, gejala rabies sering menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, lemas, mual, dan nyeri pada area gigitan. Beberapa orang juga mengalami sensasi kesemutan, gatal, atau rasa terbakar di lokasi luka.

Seiring perkembangan penyakit, virus mulai memengaruhi sistem saraf sehingga muncul gejala yang lebih serius. Penderita dapat mengalami kecemasan, kebingungan, agitasi, halusinasi, sulit menelan, dan kejang otot.

Salah satu gejala khas rabies adalah hidrofobia, yaitu ketakutan atau kesulitan menelan air akibat kejang otot tenggorokan yang menyakitkan. Beberapa pasien juga mengalami aerofobia, yaitu ketakutan terhadap hembusan udara.

Pada jenis rabies paralitik, rabies dapat menyebabkan kelumpuhan, koma, dan akhirnya kematian akibat kegagalan fungsi pernapasan atau gangguan sistem saraf yang berat.

Penyebab dan Cara Penularan Rabies

Rabies disebabkan oleh virus yang terdapat dalam air liur hewan yang terinfeksi. Penularan paling sering terjadi melalui gigitan hewan karena virus dapat langsung masuk ke jaringan tubuh melalui luka.

Selain gigitan, rabies juga dapat ditularkan melalui cakaran yang terkontaminasi air liur atau ketika air liur hewan yang terinfeksi mengenai luka terbuka maupun selaput lendir seperti mata, hidung, atau mulut.

Anjing merupakan sumber penularan rabies yang paling umum secara global. Namun, di beberapa negara, hewan liar seperti kelelawar, rakun, rubah, dan sigung juga dapat menjadi sumber infeksi.

Rabies tidak menyebar melalui kontak biasa, seperti menyentuh hewan, berbagi makanan, atau berada di dekat seseorang yang terinfeksi.

Faktor Risiko Rabies

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terpapar rabies. Tinggal atau bepergian ke daerah yang memiliki angka kasus rabies tinggi merupakan salah satu faktor utama.

Orang yang sering berinteraksi dengan hewan, seperti dokter hewan, petugas penampungan hewan, peneliti satwa liar, atau pekerja laboratorium yang menangani virus rabies juga memiliki risiko lebih tinggi.

Anak-anak termasuk kelompok yang rentan karena mereka lebih sering bermain dengan hewan dan mungkin tidak segera melaporkan gigitan atau cakaran kepada orang dewasa.

Selain itu, aktivitas di luar ruangan seperti berkemah, menjelajahi gua yang dihuni kelelawar, atau bekerja di area dengan populasi hewan liar yang tinggi dapat meningkatkan risiko paparan virus rabies.

Cara Diagnosis Rabies

Pada tahap awal setelah gigitan hewan, belum ada pemeriksaan yang dapat memastikan apakah seseorang akan mengalami rabies. Oleh karena itu, keputusan untuk memberikan pengobatan biasanya didasarkan pada jenis hewan, kondisi hewan tersebut, dan tingkat risiko paparan.

Diagnosis rabies sulit untuk dilakukan tanpa riwayat pasti mengenai kontak dengan binatang liar yang terinfeksi rabies. Itulah mengapa, jika memungkinkan, hewan yang menggigit juga perlu dites untuk virus rabies agar memastikan diagnosis.

Pengobatan Rabies

Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang terbukti efektif setelah gejala rabies muncul. Karena itu, tindakan segera setelah terpapar virus sangat penting.

Jika seseorang digigit atau dicakar hewan yang dicurigai membawa rabies, luka harus segera dicuci dengan sabun dan air mengalir selama minimal 15 menit. Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi jumlah virus yang masuk ke tubuh.

Setelah itu, penderita perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Dokter dapat memberikan profilaksis pasca pajanan (post-exposure prophylaxis atau PEP), yang biasanya terdiri dari vaksin rabies dan, pada kondisi tertentu, imunoglobulin rabies. Jika diberikan sebelum gejala muncul, pengobatan ini sangat efektif dalam mencegah perkembangan penyakit.

Cara Mencegah Rabies

Pencegahan rabies berfokus pada menghindari paparan virus dan memastikan hewan peliharaan mendapatkan vaksinasi secara rutin. Vaksinasi hewan merupakan salah satu strategi paling efektif untuk mengurangi penyebaran rabies pada manusia.

Masyarakat juga dianjurkan untuk menghindari kontak dengan hewan liar atau hewan yang menunjukkan perilaku tidak biasa, seperti agresif tanpa sebab atau tampak sangat lemah.

Bagi orang yang memiliki risiko tinggi terpapar virus rabies, seperti dokter hewan dan petugas satwa liar, vaksin rabies sebelum paparan (pre-exposure vaccination) dapat direkomendasikan.

Jika terjadi gigitan atau cakaran hewan yang dicurigai terinfeksi, jangan menunggu gejala muncul. Segera cari pertolongan medis untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Kesimpulan

Rabies adalah penyakit virus yang menyerang sistem saraf dan hampir selalu berakibat fatal setelah gejala muncul. Karena itu, tindakan cepat setelah gigitan atau cakaran hewan yang dicurigai terinfeksi sangat penting. Kabar baiknya, rabies dapat dicegah melalui vaksinasi hewan, kewaspadaan terhadap paparan hewan berisiko, dan pemberian vaksin rabies sesegera mungkin setelah terpapar. Mengenali bahaya rabies dan mengetahui langkah yang harus dilakukan dapat membantu melindungi diri serta orang-orang di sekitar dari penyakit yang serius ini.

Frequently Asked Questions (FAQ)

1. Apa yang terjadi jika manusia terkena rabies?

Jika manusia terkena rabies dan tidak segera mendapatkan penanganan medis sebelum gejala muncul, virus akan menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan peradangan otak yang fatal. Setelah gejala klinis timbul, penyakit ini hampir selalu berakibat fatal dan berujung pada kematian. Itulah mengapa Anda harus segera mendapat pertolongan medis jika mendapat gigitan hewan yang mungkin menyebarkan rabies.

2. Penyakit rabies itu seperti apa?

Penyakit rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus mematikan yang menyerang sistem saraf pusat dan otak. Virus ini ditularkan ke manusia melalui air liur hewan yang terinfeksi, umumnya lewat gigitan, cakaran, atau jilatan pada luka terbuka. Hewan penular utama adalah anjing, kucing, kera, dan kelelawar.

3. Jika terkena rabies, apakah bisa sembuh?

Penyakit rabies bisa disembuhkan sepenuhnya jika ditangani dengan cepat segera setelah digigit hewan penular, sebelum gejala klinis muncul. Namun, jika virus sudah mencapai otak dan memicu gejala (seperti takut air atau kejang), penyakit ini hampir selalu berakibat fatal.

Belanja Obat Pasti Hemat di VIVA Apotek

Perlu obat dan vitamin dengan harga terhemat? Semua kebutuhan kesehatan Anda tersedia di VIVA Apotek. Kini, kami juga melayani pembelian melalui WhatsApp. Atau, kunjungi langsung store VIVA Apotek terdekat untuk layanan lebih lengkap seperti Cek GALAU (Gula Darah, Kolesterol, Asam Urat) dan konsultasi dengan apoteker. Belanja sekarang!

Referensi:

  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rabies/symptoms-causes/syc-20351821.
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rabies/diagnosis-treatment/drc-20351826.
  • https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/rabies.
Explore
Drag