TB (Tuberkulosis) Abdomen – TB abdomen adalah bentuk tuberkulosis (TB) yang terjadi di area perut atau rongga abdomen. Jika selama ini tuberkulosis lebih dikenal sebagai penyakit yang menyerang paru-paru, bakteri penyebab TB sebenarnya juga dapat menyebar ke organ lain di luar paru, termasuk saluran pencernaan, kelenjar getah bening dalam perut, peritoneum (lapisan yang melapisi rongga perut), hati, limpa, hingga organ reproduksi. Kondisi ini dikenal sebagai tuberkulosis ekstra paru (extrapulmonary tuberculosis).
TB abdomen dapat menimbulkan gejala yang beragam dan sering kali menyerupai penyakit pencernaan lainnya, sehingga diagnosisnya tidak selalu mudah. Oleh karena itu, pemahaman mengenai penyakit ini penting agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin dan komplikasi dapat dicegah. Simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu TB Abdomen?
TB abdomen adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis pada organ atau jaringan di dalam rongga perut. Penyakit ini merupakan salah satu bentuk tuberkulosis ekstra paru (extrapulmonary tuberculosis) yang cukup sering ditemukan di negara dengan angka kasus TB yang tinggi.
Infeksi dapat terjadi ketika bakteri menyebar dari paru-paru melalui aliran darah atau sistem limfatik menuju organ-organ di perut. Dalam beberapa kasus langka, seseorang dapat mengalami TB abdomen tanpa gejala TB paru yang jelas.
Bagian tubuh yang paling sering terkena meliputi usus, terutama dekat area ileocecal (pertemuan usus halus dan usus besar), peritoneum, serta kelenjar getah bening di dalam rongga perut. Karena dapat menyerang berbagai organ, gejala yang muncul sering kali berbeda pada setiap pasien.
Gejala TB Abdomen
Gejala TB abdomen biasanya berkembang secara perlahan dalam beberapa minggu hingga bulan. Keluhan yang dapat muncul meliputi:
- Nyeri perut yang berlangsung terus-menerus atau berulang.
- Perut kembung dan terasa tidak nyaman.
- Penurunan nafsu makan.
- Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
- Demam ringan yang berlangsung lama.
- Mudah lelah dan tubuh terasa lemas.
- Mual atau muntah.
- Diare atau sembelit yang berkepanjangan.
- Pembengkakan atau pembesaran perut akibat penumpukan cairan di rongga perut (asites).
- Benjolan pada perut akibat pembesaran kelenjar getah bening atau organ tertentu.
Pada kasus yang lebih berat, TB abdomen dapat menyebabkan komplikasi seperti penyumbatan usus, perdarahan saluran cerna, atau terbentuknya fistula (saluran abnormal yang menghubungkan satu organ dengan organ lainnya). Jika mengalami gejala-gejala tersebut, terutama disertai penurunan berat badan dan demam berkepanjangan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Penyebab TB Abdomen
TB abdomen disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini paling sering menyerang paru-paru terlebih dahulu, kemudian menyebar ke organ lain melalui aliran darah atau sistem limfatik.
Dalam beberapa kasus, infeksi juga dapat terjadi akibat menelan dahak yang mengandung bakteri TB dari paru-paru yang terinfeksi. Bakteri kemudian masuk ke saluran pencernaan dan menyebabkan infeksi pada usus atau jaringan di sekitarnya.
Meskipun tidak semua orang yang terpapar bakteri TB akan mengalami TB abdomen, risiko penyakit ini dapat meningkat pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Faktor Risiko TB Abdomen
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami TB abdomen. Salah satunya adalah infeksi HIV/AIDS yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga bakteri TB lebih mudah berkembang dan menyebar ke organ lain.
Penderita diabetes, malnutrisi, penyakit ginjal kronis, atau kondisi yang memerlukan penggunaan obat penekan sistem imun juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami tuberkulosis ekstra paru, termasuk TB abdomen.
Riwayat kontak erat dengan penderita TB aktif serta tinggal di daerah dengan angka kejadian tuberkulosis yang tinggi juga dapat meningkatkan risiko infeksi.
Selain itu, kondisi sosial ekonomi yang kurang baik, lingkungan padat penduduk, dan akses layanan kesehatan yang terbatas dapat berkontribusi terhadap meningkatnya risiko tuberkulosis.
Cara Diagnosis TB Abdomen
Diagnosis TB abdomen sering kali cukup menantang karena gejalanya mirip dengan berbagai penyakit lain, seperti penyakit radang usus, infeksi saluran pencernaan, atau bahkan kanker.
Dokter biasanya akan memulai dengan menanyakan riwayat kesehatan, gejala yang dialami, serta kemungkinan paparan terhadap tuberkulosis. Pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk mencari tanda-tanda infeksi atau pembesaran organ dalam perut.
Pemeriksaan penunjang dapat meliputi tes darah, atau tes tuberkulin. Selain itu, pemeriksaan pencitraan seperti USG abdomen, CT scan, atau X-ray dapat membantu melihat adanya pembengkakan kelenjar getah bening, penebalan usus, atau penumpukan cairan di rongga perut.
Pada beberapa kasus, dokter mungkin perlu melakukan endoskopi, kolonoskopi, atau biopsi jaringan untuk memastikan diagnosis dan mengidentifikasi keberadaan bakteri TB.
Pengobatan TB Abdomen
Pengobatan utama TB abdomen adalah terapi obat antituberkulosis (OAT). Pengobatan biasanya menggunakan kombinasi beberapa jenis antibiotik khusus TB yang harus diminum secara teratur selama minimal enam bulan atau lebih sesuai anjuran dokter.
Kepatuhan dalam menjalani pengobatan sangat penting karena penghentian obat sebelum waktunya dapat menyebabkan infeksi kambuh atau meningkatkan risiko resistensi obat.
Sebagian besar pasien menunjukkan perbaikan gejala setelah beberapa minggu pengobatan. Namun, terapi tetap harus diselesaikan hingga tuntas meskipun kondisi sudah membaik.
Pada kasus tertentu yang disertai komplikasi seperti penyumbatan usus, perforasi, atau abses, tindakan bedah mungkin diperlukan untuk membantu mengatasi masalah yang terjadi.
Cara Mencegah TB Abdomen
Pencegahan TB abdomen pada dasarnya sama dengan pencegahan tuberkulosis secara umum. Menghindari kontak erat dengan penderita TB aktif yang belum mendapatkan pengobatan, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan ventilasi ruangan yang baik dapat membantu mengurangi risiko penularan.
Pemberian vaksin BCG pada bayi juga dapat membantu memberikan perlindungan terhadap beberapa bentuk tuberkulosis berat. Selain itu, menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan bergizi, tidur yang cukup, dan olahraga teratur dapat membantu tubuh melawan infeksi.
Kesimpulan
TB abdomen adalah bentuk tuberkulosis ekstra paru yang menyerang organ-organ di dalam rongga perut, seperti usus, peritoneum, dan kelenjar getah bening. Gejalanya sering berkembang perlahan dan dapat menyerupai berbagai penyakit pencernaan lainnya, sehingga diagnosis memerlukan pemeriksaan yang cermat.Â
Mengenali gejala sejak dini serta segera mencari pertolongan medis dapat membantu mencegah komplikasi dan meningkatkan peluang kesembuhan. Jika memiliki gejala yang mengarah pada tuberkulosis atau pernah melakukan kontak dengan penderita TB, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Frequently Asked Questions (FAQ)
1. Apa yang dimaksud dengan TB abdomen?
Tuberkulosis Abdomen atau TB Abdomen adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang organ-organ di rongga perut. Ini merupakan bentuk tuberkulosis di luar paru-paru yang dapat terjadi sendiri atau bersamaan dengan TB paru. Meskipun begitu, TB abdomen jarang ditemukan tanpa adanya TB paru.
2. TB Abdomen apakah menular?
TB abdomen sendiri bukan merupakan penyakit menular. Namun, bakteri yang menyebabkan TB dapat menular ke orang sekitar saat penderita TB paru batuk, bersin, atau berbicara dekat dengan orang lain. itself isn’t directly contagious. Percikan liur dari penderita TB yang mengandung bakteri dapat dihirup orang sekitar, sehingga menyebabkan infeksi.
3. Berapa lama pengobatan TB abdomen?
Pengobatan TB abdomen membutuhkan waktu yang cukup lama. Obat antibiotik untuk mengatasi tuberkulosis harus diminum secara rutin dan disiplin selama minimal 6 hingga 9 bulan, atau bahkan lebih lama tergantung kondisi klinis pasien. Ketidakpatuhan dalam minum obat dapat menyebabkan bakteri menjadi kebal, sehingga pengobatan menjadi lebih sulit dan panjang.
Belanja Obat Pasti Hemat di VIVA Apotek
Perlu obat dan vitamin dengan harga terhemat? Semua kebutuhan kesehatan Anda tersedia di VIVA Apotek. Kini, kami juga melayani pembelian melalui WhatsApp. Atau, kunjungi langsung store VIVA Apotek terdekat untuk layanan lebih lengkap seperti Cek GALAU (Gula Darah, Kolesterol, Asam Urat) dan konsultasi dengan apoteker. Belanja sekarang!
Referensi:
- https://www.healthline.com/health/abdominal-tuberculosis.
- https://www.medicalnewstoday.com/articles/gastrointestinal-tuberculosis#diagnosis.
- https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tuberculosis/symptoms-causes/syc-20351250.
