Perbedaan Real Food dan Ultra-Processed Food – Di era modern seperti sekarang, pilihan makanan semakin beragam dan praktis. Kita bisa dengan mudah menemukan makanan siap saji, camilan kemasan, minuman manis, hingga produk instan yang tinggal dipanaskan atau siap makan. Mengikuti hal tersebut, muncullah istilah yang semakin sering dibahas dalam dunia kesehatan, yaitu real food dan ultra-processed food. Banyak orang mengira semua makanan olahan itu buruk, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Memahami perbedaan antara real food dan ultra-processed food penting agar Anda bisa membuat keputusan makan yang lebih seimbang. Anda tidak harus menghindari semua makanan kemasan, tetapi mengetahui dampaknya bagi tubuh dapat membantu menjaga kesehatan dalam jangka panjang. Simak perbedaan real food dan ultra-processed food pada artikel ini agar Anda bisa membuat keputusan yang lebih seimbang terkait pola makan Anda.
Apa Itu Real Food?
Real food adalah makanan yang berasal dari bahan alami dan mengalami proses pengolahan minimal sebelum dikonsumsi. Contohnya termasuk buah segar, sayuran, telur, ikan, daging tanpa olahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh. Real food umumnya tidak mengalami banyak perubahan dari bentuk alaminya dan tidak mengandung banyak bahan tambahan seperti pengawet, pewarna, atau perasa buatan.
Karena minim proses pengolahan, real food biasanya mempertahankan kandungan nutrisi alaminya, termasuk vitamin, mineral, serat, dan antioksidan yang dibutuhkan tubuh.
Apa Itu Ultra-Processed Food?
Ultra-processed food adalah makanan yang telah melalui banyak tahap pengolahan dan mengandung bahan-bahan tambahan yang tidak diperlukan tubuh. Bahan-bahan tersebut berupa pemanis buatan, perisa sintetis, pewarna, pengemulsi, dan pengawet. Contohnya adalah minuman bersoda, snack kemasan, sereal manis, mie instan, nugget, dan masih banyak lagi.
Jenis makanan ini dirancang agar tahan lama, terasa lezat, dan mudah dikonsumsi, tetapi cenderung rendah nilai gizi alami.
Mengapa Real Food Dianggap Lebih Sehat?
Secara umum, real food lebih bernutrisi dibandingkan processed food karena proses pengolahan makanan seringkali menghilangkan nutrisi penting. Pengolahan mungkin juga membuat makanan lebih sulit dicerna tubuh.
Real food seperti sayur dan buah mengandung serat yang membantu proses pencernaan, sekaligus mengontrol kolesterol dan tekanan darah.
Contohnya, memakan satu buah jeruk lebih sehat dibandingkan segelas jus jeruk kemasan. Ini karena proses pengolahan menjadi jus menghilangkan sebagian besar serat dari jeruk. Padahal, serat dan nutrisi lain dalam jeruk memperlambat penyerapan gula ke dalam tubuh. Begitu juga dengan buah-buahan lainnya.
Sementara itu, ultra-processed food cenderung tinggi kalori tetapi rendah serat, vitamin, dan mineral. Nutrisi penting yang seharusnya ada di dalam makanan digantikan dengan gula, garam, dan lemak tambahan untuk meningkatkan rasa.
Dampak Kesehatan Jangka Panjang
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi ultra-processed food yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi (hipertensi), penyakit jantung, serangan jantung dan stroke, hingga kematian dini.
Ini karena ultra-processed food mengandung lemak jenuh, garam, dan gula yang tinggi. Jika terbiasa mengonsumsi makanan ultra-processed, Anda juga akan menyisakan lebih sedikit ruang untuk real food yang lebih bernutrisi.
Sebaliknya, pola makan berbasis real food berhubungan dengan risiko penyakit kronis yang lebih rendah dan kualitas hidup yang lebih baik. Namun, kesehatan Anda tidak bisa ditentukan hanya dengan satu jenis makanan saja, melainkan dengan pola makan seimbang secara keseluruhan.
Dampak Ultra-Processed Food pada Rasa Lapar
Ultra-processed food cenderung mudah dikonsumsi berlebihan karena dirancang untuk membuat Anda ingin memakannya terus berkat rasa yang lezat. Tidak hanya itu, kandungan serat dan protein yang rendah dalam ultra-processed food membuat rasa kenyang tidak bertahan lama. Jika sudah merasa lapar, Anda mungkin akan mencari camilan sehingga kemungkinan kembali mengonsumsi ultra-processed food meningkat.
Sementara itu, real food membantu mengatur nafsu makan karena membuat Anda merasa kenyang lebih lama berkat kandungan protein dan serat yang tinggi.
Apakah Semua Makanan Olahan Harus Dihindari?
Tidak bisa dipungkiri, makanan olahan memang lebih praktis dibandingkan harus memasak real food. Kenyataannya, tidak semua makanan olahan itu buruk. Ada juga makanan yang diproses secara minimal, seperti buah dan sayuran beku, yogurt tanpa gula tambahan, dan kacang tanpa kulit. Pengolahan untuk makanan tersebut biasanya hanya berupa pencucian, pemotongan, atau pembekuan tanpa merubah bentuk maupun kandungan nutrisinya.
Tidak semua makanan olahan perlu dihindari sepenuhnya. Kuncinya adalah membatasi konsumsi ultra-processed food dan menjadikan real food sebagai dasar pola makan sehari-hari.
Memahami perbedaan antara real food dan ultra-processed food membantu Anda membuat pilihan makan yang lebih bijak tanpa harus merasa bersalah. Real food menawarkan nutrisi alami yang mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh, sementara ultra-processed food sebaiknya dikonsumsi sesekali dan tidak menjadi andalan utama.
Anda tidak perlu menghilangkan semua makanan favorit, cukup berfokus pada keseimbangan. Dengan menjadikan real food sebagai sumber makanan utama tanpa memaksakan diri, pola makan sehat menjadi lebih realistis dan berkelanjutan. Meskipun kecil, pilihan sehat yang dilakukan dengan konsisten setiap hari dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan jangka panjang.
Perlu obat dan vitamin dengan harga terhemat? Semua kebutuhan kesehatan Anda tersedia di VIVA Apotek. Kini, kami juga melayani pembelian melalui WhatsApp. Belanja sekarang!
Referensi:
- https://www.medicalnewstoday.com/articles/what-are-whole-foods.
- https://www.bhf.org.uk/informationsupport/heart-matters-magazine/news/behind-the-headlines/ultra-processed-foods.
- https://www.healthline.com/nutrition/21-reasons-to-eat-real-food.
